Kejebak Hujan apa Kejebak Nostalgia? 

Hai! 

Lagi musim hujan nih di Jogja, di situ hujan juga ga? Barangkali ada hujan juga di matamu, Der. Hehe. Berhubung ini musim hujan nih, ku mau kasih beberapa kiat-kiat untuk menjaga kesehatan nih versiku. Soalnya kalo kamu sakit, nanti siapa yang nyakitin aku? Hmm. Dan juga barangkali di antara kalian gak ada yang ingetin buat jaga kesehatan kan makannya ini aku yang ingetin ya, Der. 

Yang pertama, menjaga pola makan. Der, makan itu penting loh. Apalagi anak kuliahan nih. Anak rantau. Yang terkadang bilang “bisa makan sehari sekali aja udah bersyukur kok”. Iya sih, aku pribadi juga gitu kalo weekend gak dapet jatah makan asrama. Tapi setidaknya kalian makan ya kalo kalian laper. Sesungguhnya kalo laper itu udah jadi kode perut kamu, tinggal kamu aja peka apa engga. Makan itu sumber energi buat kamu. Apa perlu aku tanya tiap hari “udah makan belum?”

Kedua, menjaga asupan makan. Nah, kalo kalian udah jaga pola makan tapi makanan yang kamu makan misalnya nih gorengan, ya kurang bener lah. Kenapa kurang? Karena gorengan bisa bikin kenyang dan bisa bikin sakit juga kalo dikonsumsi berlebihan dan terus menerus. Bisa kena panas dalem, batuk, dan sejenisnya. Oh iya, ada lagi nih. Mie instan. Betapa menggodanya dia tuh. Makan satu porsi kadang kurang tapi kalo makan dua porsi kadang gak habis. Aku gak tau kenapa mie instan tuh bisa enak banget, tapi aku gak bisa menikmatinya setiap hari. Buat kalian yang entah suka atau emang adanya cuma mie instan ya dikurangi lah ya konsumsi itu, pasti udah tau dong dampaknya apa kalo sering makan mie instan? Kalian juga perlu makan sayur dan buah ya,  Der. Oh iya, kurangin konsumsi micin juga tuh. 

Ketiga,  penuhi kebutuhan cairan tubuh. Lah emang kalo musim hujan bakal dehidrasi?  Yap, bisa loh. Kan hawanya tuh dingin kan dan itu membuat kita ingin sering buang air kecil. Bukan berarti udah turun air hujan tubuh kita gak butuh air ya. Nanti kalo kamu kurang cairan gimana kalo nangis? Gak mungkin nangis yang netes kenangan ya, pasti air mata. 

Keempat,  bersihkan lingkungan. Buat yang suka buang sampah sembarangan nih, yok mulai membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Dampaknya besar loh kalo satu orang aja buang sampang sembarangan, gimana kalo berjuta orang? Oh iya, musim hujan hati-hati ya. Sampah yang nyumbat saluran air (got)  bisa jadi pemicu adanya banjir. 

Kelima, pakai pakaian yang tebal dan hangat. Ya pastinya biar kamu gak kedinginan. Karena aku gak bisa menghangatkanmu, jadi kalo dingin jangan lupa pake yang bikin anget ya. Pake selimut misalnya, bisa juga pake jaket, atau apa aja yang bisa buat kamu anget. Yang bisa buat nyaman juga boleh. Kan jadinya udah anget, nyaman, tinggal tidur, Der. Tapi jangan terlalu nyaman, tugas kuliah juga butuh perhatian. Hmm. 

Oke,  Der. Mungkin itu aja tips dari aku. Kamu yang mungkin sering kejebak hujan jangan kejebak nostalgia ya. Yang lagi banyak kegiatan di luar ruangan semangat ya, jaga kesehatan loh. Yang kalo mau berangkat sekolah, kuliah, apa kerja harus menerjang hujan semoga berkah ya. Jangan lupa diterapin dan jangan lupa(in) aku ya. 

Iklan

Sepucuk Kisah MOPD

Awal menjadi siswa di SMA N 3 Slawi menjadi kebanggan tersendiri. Ratusan pendaftar dengan nilai-nilai yang tinggi bersaing demi mendapatkan bangku di sekolah favorit ini. Nama ku Prasetia Ramadhani, panggil saja Tia. Menjadi bagian di sekolah yang kubanggakan ini tidaklah mudah. Dengan kuota 9 kelas dan jumlah siswa yang diterima hanya 288, aku bersaing dengan anak-anak yang nilainya tak bisa diremehkan. Hal yang paling menegangkan adalah saat pendaftaran hari terakhir, apakah aku di urutan aman, cadangan, atau bahkan tak lolos. Semua terlihat begitu cemas, begitupun para orang tua yang sudah bersiap untuk mencabut formulir pendaftaran karena rasanya tak mungkin anaknya diterima. Aku yang saat itu berada di barisan depan untuk melihat data yang terus berjalan. Tak sendiri aku di sana, teman-teman yang lain juga ikut menyaksikan layar lebar itu.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, pendaftaran hari terakhir sudah di tutup. Aku dan teman-teman lainnya yang termasuk dalam kategori aman merasa sangat senang. Banyak memang yang kecewa atas apa yang sudah terjadi. Yang mencoba tegar, yang terlanjur meneteskan air mata, bahkan mimik wajah yang terlihat penuh amarah dan kekecewaan terlihat jelas di wajah mereka yang tak termasuk dalam kategori ku. Selesai sudah hari ini, tinggal ku tunggu minggu depan sebagai tanda resmi aku benar-benar menuntut ilmu di sini.

MOPD, Masa Orientasi Peserta Didik. Namanya sudah berganti, akan tetapi mungkin saja tradisinya tetap sama. Kami para junior yang akan memakai seperangkat peralatan masa orientasi, menuruti perintah senior, dan memberanika diri untuk berkenalan dengan teman baru. Aku ragu dengan apa yang aku bawa, sudah lengkap atau belum. Namun firasat ku berkata sepertinya hari pertama MOPD akan mendapat hukuman yang ringan. Suasana ruang kelas ini seperti swalayan, ramai tapi tak berisik. Saat pintu kelas terbuka kami mulai membenarkan posisi duduk yang benar. Bukan senyum yang pertama kali mereka tunjukkan, wajah dingin seperti mengajak bermusuhan. Aku rasa bukan aku saja yang merasa gugup dan tak siap melihat senior yang berekspresi seperti itu. Dua orang senior yang menjadi pembimbing kelas kami mulai mengecek peralatan satu per satu.

Kenapa masih salah sih, de? Kan waktu itu udah dijelasin, kalian bilangnya iya udah jelas. Gimana sih!

Entahlah itu apa namanya, ia marah atau hanya sekedar berceloteh. Wajahnya manis namun tak kuasa saat ku dengar suara merdunya tadi yang melengking. Untunglah aku tak memiliki gangguan pada jantung ku. Aku rasa teman-teman yang lain merasakan apa yang aku rasakan.

Waktu terus berputar, lama sekali rasanya duduk dibangku panas ini. Senior-senior mulai berdatangan, ketua panitia, ketua OSIS datang dan pergi begitu saja tanpa sempat kami tanya siapa nama mereka. Tak lama kemudian datanglah senior-senior tertua, iya kakak kelas 12. Terlihat ramah dan baik, namun tetap saja itu hanya terlihat. Satu per satu dari mereka mulai memperkenalkan diri setelah salah satu dari kami meminta mereka untuk memperkenalkan diri. Satu orang yang menyebalkan dari mereka, namanya kak Anka. Ia duduk di meja depan, jelas saja itu tidak sopan, tampan tapi menyebalkan. Ia banyak bicara memang, mungkin impiannya ingin menjadi penyiar radio. Mungkin karena hari pertama ini ada orang menyebalkan sehingga aku lebih hafal wajah dan namanya daripada wajah dan nama senior yang lain.

MOPD hari kedua. Jadwal kegiatan hari ini cukuplah menyenangkan, ada acara nonton bareng demo ekstrakulikuler di lapangan tengah. Kami para junior dipersilahkan duduk manis sambil dijemur di bawah sinar matahari yang menyilaukan. Beberapa ekskul mulai ditampilkan, para pendemo mulai beratraksi untuk menarik perhatian kami para junior. Kegiatan demo ekskul ini cukuplah menarik perhatian kami para junior. Tak lama kami dijemur di sana, setelah itu kami diperintahkan untun masuk ke dalam kelas.

Tanda tangan menjadi hal yang wajib ada di dalam buku MOPD. Struktur pengurus yang harus lengkap, tapi tetap saja nama senior yang ada di buku tak semuanya benar sesuai nama asli. Dan hari terakhir inilah menjadi hari yang menegangkan. Peralatan yang kami bawa harus benar, buku harus lengkap strukturnya harus benar, tanda tangan sudah terisi, tapi kami tak menyanggupi semua itu.

Hari menjelang siang, kami dipindahkan ke ruang aula. Pentas seni dari setiap gugus ditampilkan di sana. Seketika suasana memanas, senior-senior kelas 11 saling meluapkan emosi saat senior tertua menampilkan sebuah pentas seni. Kami para junior tak tau menau apa maksud mereka semua saling adu mulut bahkan sampai adu fisik. Tak lama pembina kesiswaan menjadi penengah antara dua kubu itu, bahkan sampai ketua OSIS pun kena marah. Dan nyatanya yang terjadi adalah sebuah drama di mana kami para senior dikerjai habis-habisan terutama yang terpilih menjadi raja dan ratu MOPD.

Acara MOPD hari terakhir ini ditutup dengan saling berjabat tangan layaknya saat lebaran sambil meminta maaf. Awal masuk SMA yang tak akan dilupakan oleh ku dan mungkin teman-teman satu angkatan ku juga.

Hujan, Hati, dan Rasa

Hai!

November nih. Iya, terus kenapa?  Hujan terus, tahun kemarin juga gitu, kemarinnya lagi juga gitu. Lah ya musimnya kali kan emang gini. Iya, tapi gak cuma hujan dari langit. Hujan juga dari mata turun ke hati. -Sheila On 7~Hujan Turun-

Beberapa orang selalu menantikan bulan November yang selalu diguyur hujan ini. Tapi, ada juga nih yang kaya percakapan di atas. Bisa gak sih bulan ini di skip aja?  Atau selain November deh, pasti ada aja dari kita yang pingin gak ketemu sama bulan antara Januari sampe Desember itu. Pastinya ada alasan tertentu ya, tapi bisa jadi alesannya karena pernah kecewa atau hal-hal buruk pernah terjadi. 

Tiap orang yang kecewa ingatannya tu kuat banget. Kadang cewe suka ungkit masalah yang udah lewat kan ke cowonya? Ya itu, kecewa dan ingatannya bakal balik lagi tanpa diminta. Ngapain juga masalah udah lalu mau dipikirin terus? Tapi ada saatnya hal-hal itu bakal muncul lagi saat hati kecewa lagi.  

Terus kenapa pingin skip bulan, hari, atau tanggal?  Manusia itu punya otak, punya daya ingat. Dia lagi liat kalender terus sadar itu tanggal berapa bulan apa dan tiba-tiba mukanya jadi suram atau bahkan sampe nangis. Ya itu, karena ada hal-hal yang pingin dihindari. Kaya flashback atau hal semacannya. Dia mungkin udah lupa, kejadian itu udah bertahun-tahun lamanya, tapi yang namanya perasaan siapa yang bisa ngatur? Atau tentang udah putus lama udah move on tapi suatu ketika keinget aja gitu, terus hela nafas, terus puter lagu yang biasa didenger dulu, ya itu perasaan. Dia jalan sendiri. Tapi bukan berarti gagal move  on ya. 

Ya jadi, hal-hal di masa lalu bahkan di masa kecil pun bisa teringat ketika ada hal yang baik atau buruk. Tapi, yang bakal keinget banget sih hal buruk. Selama apapun kejadiannya tuh ingatan bakal balik deh. Bahkan itu bisa jadi penyebab trauma seseorang. 

Berusahalah berbuat baik kepada siapapun, berusahalah menjaga setiap perasaan seseorang, berusahalah untuk tidak menoreh kekecewaan, berusahalah untuk mengetuk hati dan pikiran seseorang dengan kesan yang baik agar kamu selalu diingat sebagai orang yang baik untuknya. Karena beberapa manusia memandang lebih kepada kekecewaan, kamu udah baik terus sama dia bertahun-tahun tapi suatu ketika disengaja ataupun tidak kamu bikin dia kecewa, dia bisa langsung berfikir kamu bukanlah orang baik. Dan rasa percayanya kepadamu berkurang atau hilang. Bisa saja.

Jatuh Cinta atau Jatuh Baper? 

Hai, readers! 

Tanpa diminta kadang tuh hati jatuh sama pilihan yang gak terduga. Gak tau jatuh sama perasaan kagum, baper, suka, atau cinta. Tapi sih cocoknya ya jatuh cinta ya bukan jatuh baper. Haha. 

Ya begitulah. Saat jatuh sama orang yang gak tepat pun pasti berusaha buat cari orang yang tepat. Gimana sih orangnya itu? Ya pasti sih bukan orang yang terlihat selalu ada buat kamu. Karena bisa jadi tuh cuma Jebakan Batman aja. Dia tiap waktu chat kamu, perhatian, ngomongnya ga punya pacar, la ternyata temen cewe kamu curhat tentang pacarnya pas ditanya siapa nyebutinnya nama dia. Duh mas, mikir apa sih? Berharap di sini baik-baik aja? Gak baper? Gak mungkin punya rasa? Gak mungkin ngerasa nyaman? Ya kali dengan sikap kamu yang begitu di sini biasa-biasa aja. Eh? Kenapa jadi bahas beginian? 

Oke jadi yang udah aku bilang tadi bukan cuma terlihat selalu ada buat kamu. Selanjutnya, bukan orang yang sukanya bikin baper tapi dia anggep “Apa sih? Orang aku biasa aja.” Nah, hati-hati tuh. Soalnya, zaman sekarang ini lagi musim yang begituan. Si cowo bilang cewe baperan si cewe bilang cowo suka bikin baper. Terus siapa yang salah? Waspada tuh ya. Soalnya nih banyak hal yang terlihat fana. 

Ada lagi nih, jangan cari orang yang baik. Lah kenapa?  Liat dulu deh ya, bisa aja dia emang baik ke semua orang, Der. Jangan berekspetasi dulu deh. 

Terus, jangan cari yang mulutnya manis. Maksudnya yang omongannya memikat hati. Jangan mudah percaya pokoknya. Itu terkadang cuma pinter-pinternya dia aja lah buat dapetin sesuatu, tapi bukan hati kita sasarannya. 

Dan jangan cari orang yang gak sesuai dengan hati nuranimu. Misal nih, dicomblangin. Keliatan cocok sih, tapi kalo hati berkata tidak gimana? Jangan yang penting bisa punya pacar ya. 

Oh ya ini penting, cari orang yang bisa buat kamu jadi pribadi yang lebih baik. Yang mau mendengarkan dan mengerti setiap keadaan kamu. Yang berusaha sabar dan khawatir sama keadaan kamu. Yang berusaha membuat kamu tersenyum dan bahagia tapi kadang caranya salah atau konyol. Kenapa? Karena sikap-sikap ini bisa jadi penentu dia cuma mau mampir aja, mau baperin aja, apa emang ada rasa. 

Gak papa kok jatuh cinta, gak salah juga. Yang salah sih udah jatuh tapi tetep cinta. Hehe. 

Kamu, Masa Lalu yang Kurindukan

Hai, readers!

Kali ini aku mau nulis tentang kenangan di masa lalu. Haha. Eh, basa basi dulu ya biar asik.
Jadi tuh awalnya lagi liat-liat explore instagram, maklum ya gabut der. Haha. Iya jomblo, gak ada yang chat dan grup juga tumben lagi sepi (malah curhat kan). Nah terus tuh liat deh ada orang foto pake karate-gi (baju karate) dan akhirnya dapet ide buat nulis cerita atau bisa disebut curhat. Hehe.

Pada zaman dahulu…
Dari aku SD kelas 4 tuh udah diajak ikut karate sama pelatihnya yang kebetulan temen ibu ku, tapi aku gak pernah siap karena takut kepukul. Haha. Ya namanya juga masih anak kecil pemikirannya gitu. Dan hingga akhirnya aku masuk SMP terus ikut ekskul karate yang berlangsung tiap hari selasa siang sampe sore. Lucu aja deh, dulu badan sumpah kecil banget sampe baju karate yang ukuran paling kecil aja masih kebesaran bahkan baju olahraga yang ukuran terkecil masih harus aku potong panjang celananya. Haha. Kaya belum pantes aja jadi anak SMP pada zaman itu. Awalan sih pake sabuk putih dan tiap gerakan yang dikasih kaya gampang aja gitu tapi setelah udah ujian kenaikan sabuk rasanya semakin ga gampang. Sabuk kuning, hijau, biru, dan aku ada di tingkat sabuk coklat. Iya, sampe situ udahan. Aku udah SMA, dan jauh dari tempat latihan. Di SMA pun ga ada ekskul karate, mau gabung latihan di sekolah lain waktu itu ga ada fikiran begitu. Ya udah, impian sabuk hitam masih jadi sebuah impian aja. Sampe ilmu yang dari sabuk putih perlahan pudar. Sayang banget. Padahal dulu selalu semangat banget, seneng aja tiap pemanasan selalu niat  dan pastinya karna ada seseor*ehem*. Apasih.
Haha.
Dulu yang ikut ekskul karate tuh bisa dibilang keren sih kakak kelasnya, eh angkatanku juga keren-keren kok. Tapi ya gitu, cuma mengagumi aja. Tapi ada sih satu yang sampe deket (lah malah flashback). Dramatis banget pokoknya. Haha. Apalagi pas dulu sama orang yang cuma dikagumi aja, orangnya aku gak akrab dia jarang ngomong keliatannya bahkan sampe sekarang padahal rumah mah ya ampun deket. Yang dinantiin ya pasti hari selasa itu, tapi ya setelah kelas tiga dia jarang-jarang berangkat. Terus kalo sama yang deket itu mah bawaannya pingin liatin terus, senyumnya manis banget. Haha.
Eh, kok malah jadi bahas ginian. Ini mah namanya gak kangen karatenya dong. Hmm.
Oya, senpai (pelatih) juga jadi guru di SMP ku. Beliau udah kaya bapak sendiri. Tegas, disiplin, bijaksana, baik, suka ngelucu juga loh. Nah dulu tuh sering main aku ke rumahnya, anak perempuannya waktu itu ya masih SD kalo gak ya SMP aku lupa pokoknya aku masih kecil lah (sekarang juga masih kecil badannya). Makannya aku diajakin ikut karate dari SD tapi aku gak mau. Hehe. Sekarang mbak nya itu udah mau nikah kabarnya, dan ku masih aja jomblo (terus hubungannya apa?).
Dan yang masih ku inget kata-kata dari senpai “selesaiin dulu satu persatu”. Itu tuh pas lagi KATA (rangkaian gerakan karate). Tiap pukulan harus jelas, mantep, dan jangan asal pukul harus bertenaga. Ya harus hikmat lah (kaya upacara aja).  Karena kalo asal-asalan juga gak dapet nilai bagus. Eh, keinget nih waktu kakak kelas aku ada yang ujian kenaikan sabuk coklat ya kan dia tuh kumite (kaya tanding gitu) lah doi tuh kepukul bagian sekitar bibir dan itu buat aku pas mau kenaikan tingkat ke sabuk coklat gak siap. Haha. Karena yang dilihat tuh berat badan, jadi kalo orangnya gede tapi berat badannya sama kaya aku ya itu lawannya sah-sah aja. Pas ujiann itu awalnya asal-asalan mukul banget sampe gak kena-kena dan senpai bilang “apa yang udah kamu pelajarin ya kamu praktekin di sini” dan itu buat aku berfikir aku harus mukul bagian-bagian yang boleh dipukul. Dan selesai kumite itu tangan masih gemeteran. Haha. Itu adalah ujian ku yang terakhir sampai saat ini, belum ada niatan buat lanjut lagi tapi ya pingin banget. Apalagi dulu tuh ada popda kan, gak pernah bisa ikut karena tinggi badan sama berat badan gak memenuhi. Resiko punya tubuh mungil gini ya ampun.

Mungkin sampai di sini dulu curhatannya, makasih der udah sempetin baca ini. Daripada gabut kan ya mending aku nulis dan kalian baca. Hehe.
Kritik dan saran bisa kalian kirim ke email aku ya.

Yang Terlupakan

Hai, Readers!

Kali ini aku mau share kisah perjalanan aku. Mungkin bagi yang punya hati bakal bilang kalo ini kisah yang “kok kasian ya”, tapi bagi yang punya hati ++ (termasuk aku) bakal bilang kalo ini kisah yang “konyol deh, kok agak lucu ya”.

Jadi, ini perjalanan aku selama hampir satu tahun naik transportasi darat yang ga ada macetnya. Tau dong apa? Iya, kereta api. Tapi, akhir-akhir ini aku selalu ga beruntung aja atas dasar “aku yang lagi teledor” (haha). Mungkin efek selesai ujian semester jadi agak ilang-ilangan gitu memori otaknya. Hari itu jumat, aku udah selesai ujian praktek. Rencananya aku mau balik ke Solo, liburan dulu di sana beberapa hari lah terus baru balik ke Tegal (toh ya Jogja – Solo cuma delapan ribu aja naik kereta Prameks. Hehe.) Tapi, aku masih gundah gulana gitu sih. Temenku sih pada bilang pulang aja ke Tegal, dan akhirnya ada temen aku ngajak balik ke Tegal. Dan singkat cerita tuh kita lagi ke stasiun beli tiket, tapi kita nanti turun beda stasiun jadi kan beli tiketnya beda tapi tetep satu kereta. Nah, pas mau milih tempat duduk tuh temenku bingung tadi pas di samping kursi yang aku pilih tuh kosong kok jadi penuh semua di gerbong itu. Kita berdua udah biasa aja ga mikir yang aneh-aneh. Dan besoknya nih pas udah turun di stasiun Purwokerto, atas nama keteledoran aku ternyata tiketnya yang aku beli itu jadwal buat hari minggu padahal aku udah di stasiun itu hari sabtu. Kenapa gak di cek dari awal sih? Sumpah, panik ya banget. Temenku aku suruh buat masuk aja duluan terus aku langsung lari tuh ke loket buat tuker jadwal untung masih bisa, kalo engga aku nunggu sampe jam 5 sore. Setelah duduk di kereta ya rasanya lucu aja, malah pingin ketawa padahal tadi udah panik pake banget soalnya kereta tinggal 5 menit lagi mau berangkat.

Ini kisah yang lain, gak lama terjadi. Atas nama keteledoran aku juga. Jadi, aku udah berniatan buat main ke Solo dan aku berangkat dari Jogja (padahal dari Tegal dulu baru ke Jogja). Semua udah aku persiapin termasuk hal yang gak biasa aku bawa, helm. Kebetulan dapet tempat duduk nih. Aku naik kereta Prameks turun di stasiun Purwosari. Sebelum turun aku sempet bales chat temen aku gitu, dan pas udah lebih dari dua puluh langkah aku keinget sesuatu. Helm ketinggalan. Pas nengok ke belakang, si kereta udah pergi. Panik kan, aku langsung mikir cepet harus gimana. Dengan sisa-sisa kecerdasan setelah terkuras waktu ujian (haha) aku langsung telfon pusat pelayanannya. Dan itu lama deh, tekan ini tekan itu terus nunggu diproses dicatet keluhannya terus aku bilang helm itu tolong diturunin aja di stasiun pemberhentian terakhir (stasiun Solobalapan). Setelah telfon mati, sodaraku dateng jemput aku. Dengan sedikit malu tapi lagi panik aku bilang minta dianter ke stasiun Solobalapan dulu mau ambil helm ketinggalan. Oke, kita meluncur. Sampe sana, gak ada. Belum keurus. Terus bapak yang keamanan ngurus kasus aku itu, helmnya diturunin di stasiun Purwosari. Oke, kita balik lagi ke sana. Setelah helm diurus, data diri udah dicatet, foto bersama buat bukti juga udah selesai kita pulang. Dan aku merasa menyusahkan banget jadi orang saat itu, udah minta dijemput pake ada acara helm ketinggalan lagi. Tapi, sodaraku baik kok pake banget sabar banget juga. Dia ada urusan sih masih sempet pas banget mepet pokoknya, dan kalo ngurus helm itu masih lama lagi aku merasa bersalah dan berdosa karena urusannya akan gagal hari itu.

Dan ini kisah yang sama, baru aja terjadi. Aku bener-bener udah siapin ingatan kalo jangan sampe helm lupa. Nah kan, pas mau sampe aku buka aplikasi ojek online (maklum gak punya “doi” gitu jadi ya gak ada yang jemput, hehe) terus berhenti tuh kereta. Aku turun di stasiun Yogyakarta, jalan udah lebih dari tigapuluh langkah dan rasanya tangan aku gak berat. Spontan aku inget helm, aku balik jalan cepet tapi kurang cepet. Aku lari, dan gak peduli banget orang pada liatin muka panik. Alhamdulillah, emang masih dikasih jalan sama Allah. Helm ketemu.

Jadi, lain kali sebelum sampe tujuan gak usah buka handphone. Daripada lupa-lupa lagi. Dan lagi, pasti ketawa habis itu terjadi. Panik sih, tapi lucu aja kalo inget “pasti muka jelek banget” udah jelek kan tambah jelek, ya gimana gak lucu? Mungkin kemarin sodaraku itu pingin ketawa juga, cuma gak enak hati aja kali ya. Haha.

Makasih ya, Readers. Udah luangin waktu buat baca ginian. Aku gak bermaksud buat merugikan pihak lain kok, hanya bercerita atas dasar kenyataan aja yang udah terjadi. Mungkin buat kalian juga ya, harus sigap jangan teledor jangan lupa-lupa. Minta dikasih jalan sama Allah biar setiap urusan kamu lancar.

Jodoh is the Best

Hai, readers. Apa kabar puasanya? Semoga lancar ya. Tak terasa nih sebentar lagi lebaran. Hehe. Padahal sih ya masih agak lama. Oh ya, udah lama ga update tulisan nih. Dan setelah mendapatkan pencerahan karena ada yang usulin tema, aku jadi punya ide buat nulis. Haha.

Jadi, tema kali ini adalah save the best for the last. Katanya sih ini berawal dari filosofi kulit ayam K*C. Pastinya ada dong yang suka makan ayam tapi kulitnya dimakan terakhiran? Ya kaya aku deh. Apa sih alesannya? Ya enak aja, kulitnya tuh lebih nikmat dimakan terakhiran. Terus apa hubungannya ayam sama tema kali ini? Pastinya sesuai tema dong. Yang enak-enak buat terakhiran. Haha.

Ga cuma filosofi kulit ayam K*C sih. Ini juga tentang kehidupan. Jadi, si pengusul tema tuh bilang: kaya kalo kita punya cerita tapi ujungnya belum bahagia berarti belum selesai ceritanya. Nah tuh, paham ga?  Yang terbaik tuh diperuntukkan untuk yang terakhir. Jadi kalo itu terbaik untuk kita  insyaallah menjadi kebahagiaan kita. Ya kaya kulit ayam tadi, dimakannya terakhiran karena aku bisa ngerasain betapa enaknya ayam ini. Haha. Malah jadi ngomongin si ayam lagi, jangan tergoda dulu ya.

Terus ku tanyain deh dia: “Kalo ceritanya udh bahagia tp berubah jd luka gimana? Tapi udah selesai.”

Lah si dia malah jawabnya: “Namanya juga cerita. Kan cuma cerita.”  

“Jadi, hidup itu bukan cerita ya?”

“Life is survival but not destination. The destination is heaven.”

Nah, gimana? Bisa cerna kata-kata dia ga? Bisa mengartikannya kan? Hehe. Hidup itu ga abadi. Di dunia kita cuma singgah kok ga ada kata menetap. Dan ini topik yang ku bahas untuk sang penutup. Iya, yang terakhir. Kenapa terakhir? Karena yang the best for the last. Haha.

Ini perihal jodoh. Ada apa dengan jodoh? Ya kaya yang tadi udah aku jelasin di awal. Jodoh adalah yang kelak akan menjadi pendamping hidup. Mungkin menurut orang lain jodohmu ga baik, sikapnya ga baik, penampilannya ga baik. Ketahuilah. Jodoh itu orang terakhir yang akan berada di dalam hatimu untuk selamanya. Dia akan menjadi pendamping hidupmu. Mau kata orang ga baik kek baik kek, yang menentukan itu Tuhan. Tuhan akan kasih kamu jodoh terbaik untuk dirimu. Karena jodoh adalah cinta terakhirmu. Dia tempat hatimu berlabuh kelak. Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Buat yang jomblo atau yang habis putus ya sabar aja. Tuhan tau kok yang terbaik buat kamu.Tuhan sudah menyimpan jodoh yang terbaik untukmu. Wah, filosofi kulit ayam bisa menyangkut tentang jodoh ya. Haha.

Oke deh, segini dulu aja. Semoga berfaedah ya. Hehe. Kalo ada kritik dan saran bisa e-mail aku lah ya. For the last, selamat menuaikan ibadah puasa. *senyum*

Buku untuk Indonesia

Selamat hari buku nasional. Sudahkah readers baca buku hari ini? Oh ya, sebenernya sih ini acara kemarin ya. Aku telat update aja. Hehe.

Menurut readers buku tuh penting ga sih? Penting lah ya pastinya. Ya meski jaman udah berkembang, teknologi semakin berkembang, info apapun bisa kita dapet dari internet tapi gimanapun juga baca buku itu penting loh. Bahkan untuk adik-adik di daerah yang jauh dari kota dan di sekolahnya tuh perpustakaannya ga lengkap buku-bukunya. Ya aku pribadi sih mungkin lebih suka baca novel gitu sih, tapi ga menutup kemungkinan aku suka baca buku yang lain. Aku suka baca, bahkan kalo di jalan nama-nama toko atau apapun aku baca. Haha.

Jadi ceritanya kemarin itu ada orang share di instagram tentang donasi buku buat anak-anak di Kalimantan, yang share sih ya aku kenal dia kakak tingkat aku. Tanpa pikir panjang aku langsung hubungin orangnya buat tanya buku yang bisa didonasikan buku apa aja, dan katanya buku apa aja bisa didonasikan. Dan aku langsung berfikir buat kasih buku bacaan. Terus kemarin, aku pergi ke toko buku ya karna buku-buku aku waktu SD ada di rumah jadi ribet kalo mau minta dipaketin. Awalnya nemu buku cerita gitu tapi terus aku nemu majalah Bobo, ini tuh majalah kesukaan aku banget waktu SD. Haha. Tiap kamis nungguin mas yang jual koran gitu lewat rumah cuma buat beli majalah Bobo. Apalagi kalo lagi edisi ‘bonus’ wah seneng deh pokoknya. Di rumah stoknya banyak, sempet beberapa aku donasiin ke kakak kelas aku waktu SMA dan sisanya masih ada dua kardus di rumah. Pokoknya aku langsung beli aja beberapa majalah Bobo. Aku mikirnya karna di majalan anak ini tuh ga cuma sekedar bahan bacaan biasa, di sini isinya bener-bener jendela dunia deh buat anak-anak. Ga cuma ada cerpen, isinya tuh ada informasi tentang hal-hal di Indonesia bahkan di dunia juga, dan ada juga kayak soal-soal mata pelajaran matematika dan lainnya buat anak SD kelas satu sampe enam. Dengan gambar yang menarik dan bahasa yang pas buat anak-anak ini tuh cocok banget buat aku donasiin. Oke, setelah beli aku kasihin deh ke kakak tingkat aku itu. Dan malah dia bilang: “makasih ya dek, kamu tuh bukan orang Kalimantan tapi peduli sama Kalimantan.” 

Bukan karena aku kenal sama kakak tingkat itu, bukan karena apa deh, tapi karena aku pingin anak-anak itu bisa rasain apa yang aku rasain. Rasanya baca buku itu asik, bikin seneng, dan nambah wawasan. Bahkan dulu aku pernah punya cita-cita bikin perpustakaan di rumah. Sempet terjadi sih, cuma ga bertahan lama karena buku yang aku punya sedikit dan paling pengunjungnya tetangga rumah. Haha. Ya mungkin ga sekarang, tapi nanti akan terwujud. 

Oh ya aku berterimakasih buat orang-orang yang melakukan hal-hal kebaikan seperti share di sosial media atau manapun. Dan ini tuh berpengaruh buat orang-orang yang punya simpati dan empati, pasti mau bantu. Dengan share info aja udah membantu sesama loh. Jadi kalo punya info apa dan itu ga hoax di share ya, untuk Indonesia setidaknya kita peduli sesama.

Temen Jadi Demen

Hai, readers! 

Rasanya semangat nih mau bahas tentang hal ini. Hal apa sih? Kok judulnya Temen Jadi Demen? Apaan tuh demen? Penasaran ga? Harus kepo loh biar asik bacanya. Oke, mulai aja ya.
Jadi, kali ini aku mau nulis tentang “temen chat”. Pasti punya dong yang namanya temen chat? Apalagi temen chat yang lawan jenis. Bahkan berawal dari chat bisa masuk ke perasaan. Ciee. Hati-hati loh. Kenapa? Karena bakal rugi kalo cuma kamu yang rasain deg-degan waktu chat. Kok rugi? Loh iya, ga sadar? Ayo sekarang simak ya.

Kasus  1 

Kamu dan doi (temen chat) sebelumnya ga saling kenal. Terus tiba-tiba doi chat kamu karna bales status kamu atau komen foto kamu atau kirim  DM atau sejenisnya dan doi pake bahasa yang sok care biar keliatan asik dan dikira orang yang baik. Nah, saat chat terus berlanjut sampe larut malem dan mulai ga dibales itu ada dua kemungkinan: yang pertama karna doi ga sengaja tidur, yang kedua karna doi sengaja ga bales biar besok bisa lanjut chat sama kamu. Tik tok, tik tok, tik tok. Sampe besoknya bener, doi bilang “maaf ya, semalem ga sengaja tidur” dan terus lanjut topik pembicaraan semalem. Nah, kalo udah lanjut gini nih hati-hati deh. Takutnya kebawa perasaan der. Baper. Jaga hati deh, sapa tau kan doi udah ada yang punya tapi sok bergaya jomblo. Sapa tau doi cuma pingin lewat ga pingin masuk ke rumah. Ya mungkin doi bikin nyaman, dan kamu udah baper, dan setelah lama dan merasa nyaman kamu baru tau hal yang sesungguhnya. Ya mikir pahitnya aja deh, misal doi udah punya pacar. Nah lo, pupus kan? Kecuali nih doi udah terjamin kejombloannya, doi ga lagi PDKT sama siapa-siapa, doi kasih kode-kode halus ke kamu, ya baru tuh kamu baper-baper ga papa. Tapi tetep hati-hati. Kita masih belum tau doi maunya lewat apa singgah di dalam rumahmu.

Kasus 2 

Kalo yang ini hampir-hampir sama kaya kasus 1, cuma bedanya lama-lama kamu jadi temen curhatnya doi. Lah terus berawal dari curhatan doi tentang kisah percintaannya lama-lama kamu ngerasa cemburu, terus mulai deh nyanyi lagu Ku Tunggu Kau Putus. Terus, kamu yang selalu diajak curhat akhirnya bikin doi nyaman. Terus lagi, bisa-bisa doi berpaling ke kamu. Dan pahitnya, kamu bakal jadi sasaran pacaranya doi buat dinyanyiin: Stop! Kau Mencuri Pacarku, Pacarku. Stop! Kau Mencuri Pacarku. Nah lo, gimana kalo udah gini? Bisa dikira orang ketiga kan tuh. Kalo doi minta pendapat tentang putus dan berpaling ke kamu? Apa kamu mulai bersikap ga care aja sama doi dan bersikap biasa aja? Tentukan pilihanmu ya.

Kasus 3 

Oke, kita lanjut kasus berikutnya. Jadi, doi adalah temen dari mantan gebetan atau mantan pacar kamu. Kalo doi temen dari gebetan atau pacar kamu bisa-bisa hampir sama kaya kasus 2 tadi. Kamu merasa udah klop sama doi, karna doi orangnya asik dan terlihat mampu memahami. Sekian lama udah kenal sama doi dan kamu merasa doi orang yang cocok sama setiap obrolan kamu bisa jadi lama-lama berawal dari temen kamu bisa demen (suka). Nah ini harus hati-hati juga loh. Bisa jadi doi punya seseorang yang dia taksir dan kamu ga tau itu. Nanti kalo kamu udah baper, terus doi mulai ngerasa kayanya kamu mulai kasih kode-kode gitu bisa jadi perlahan doi mulai jarang-jarang bales chat kamu terus menghilang ditelan waktu. Padahal kan kamu udah nunggu lama balesan chat dari doi, dan suatu ketika kamu tau kabarnya ternyata doi udah jadi milik orang lain. Gimana? Rasanya kaya tertusuk tapi ga berdarah gitu? Sabar ya. Harus pandai kontrol baper.

Kasus  4 

Ini ceritanya kamu dan doi emang udah kenal. Kalian emang temen, tapi kamunya mulai baper karna doi bersikap care. Nah, ini tuh wajib hati-hati ya der. Cari tau lah lebih banyak tentang doi, kan kalian temen. Bisa jadi doi orangnya emang care ke semua orang dan itu termasuk kamu. Terus kalo udah tau doi orangnya emang supel dan care ke orang-orang ya kamu jangan berfikir “dia beda kok, care ke aku ga kaya yang ke lainnya” pokoknya kamu pasti selalu berfikiran positif kalo doi ada rasa sama kamu. Aduh, berfikir positif itu baik, tapi kalo kaya gini tuh ya pikirin pahit-pahitnya dulu dong. Toh kalo awalnya pahit bisa jadi akhirnya manis, jangan awalnya manis akhirnya pahit loh. Ga enak. 

Kasus 5 

Cerita yang ini sih ga tega mau jabarinnya der. Jadi, kamu itu adalah sebuah pelampiasan atau pengganti aja. Sakit ga? Ini ga usah ngomongin baper deh, ga baper aja sakit apalagi baper. Doi tuh chat kamu kalo dia lagi butuh aja, kalo dia lagi kesepian aja, kalo dia lagi dianggurin sama pacaranya aja, jadi tuh dilampiasinnya ke kamu. Kalo kamu emang ga baper sih ga usah deh diladenin orang model begini, tapi kalo kamu orang yang berhati begitu baik ya bales aja hitung-hitung amal lah ya. Eh, tapi kalo kamunya baper sebaiknya sih berhenti dan pergi aja deh. Ga usah dihapus kontaknya, cuma ya kalo doi chat tuh kamu biasa aja dan kalo bisa balesnya lama-lama aja ga usah secepat kilat dan keliatan kaya ngarepin chat dari doi itu. Ntar doi bisa-bisa jadi penjajah perasaan kamu. Kamu harus merdeka!

Oke der, tadi adalah beberapa kasus yang mungkin pernah terjadi di antara kalian dengan doi masing-masing. Ini bukan berdasar hasil penelitian ya, cuma apa yang ada difikiranku saja. Semoganya sih kalian setuju der dengan kasus-kasus di atas. Hehe. 

Jadi, kasus berapa yang paling sering kamu alamin?

Oh ya kalo kalian mau kasih kritik dan saran bisa kirim lewat alamat emailku, yussimlnwt@gmail.com. Terimakasih sudah membaca.

    Berawal Dari Kantin

    Seperti biasanya, jam istirahat identik dengan keramaian kantin. Terutama saat jam makan siang, kurang pas rasanya kalau belum ke kantin. Entah itu cari makan atau cari pemandangan. Dan siang itu menjadi waktu yang tak pernah diduga sebelumnya. Aku duduk di meja bagian pojok kantin dan menghadap ke jendela. Sambil nunggu pesanan, dilihat-lihat dari dalem kantin seperti ada sosok yang aku kenal di depan sana. Karna aku menghadap ke jendela dan bisa lihat dengan jelas keadaan di luar itu, membuat aku yakin kalau aku memang kenal sosok itu. Benar saja, sosok itu adalah dia. Dia adalah senior yang pernah aku kagum-kagumi semasa dia masih ada di sekolah ini. Karena suatu hal aku sempat tak suka bahkan membenci dia, entah itu hal yang wajar atau bukan tapi aku merasa ingin marah dengan dia saat itu. 

    Terlalu fokus sama dia, membuat aku jadi tak konsen makan. Rasanya sudah kenyang saja. Berharap dia lihat aku ada di dalam dan senyum kepada aku. Dan ternyata dia masuk ke dalam kantin untuk pesan minum, aku tak memanggilnya tapi dia menolehkan kepala ke arah ku sambil tersenyum. Yang benar saja, dia sadar akan keberadaanku. Itu adalah momen pembangkit rasaku terhadap dia. Dia mengingatku. Yang ku tau sepertinya hari ini dia akan bersosialisasi tentang kampusnya di sekolah. Sosialisasinya sih untuk kelas dua belas, ya karna memang mereka yang mau lulus duluan. 

    Sepulang sekolah aku mencoba menghubungi dia, berharap nomornya masih aktif. 

    “Tadi ke sekolah mau sosialisasi ya mas?” Dengan keyakinan hati ku tekan tombol kirim dan pesanpun terkirim.

    “Iya nih dek.” Tak lama dia membalas pesanku. Itu artinya nomornya masih aktif. Entahlah, rasanya senang sekali saat pesanku dibalas.

    “Oh gitu. Mas apa kabar?”

    “Baik kok dek, kamu gimana? Sekarang kelas 11 ya?”

    “Baik juga mas. Iya nih mas.”

    “Wah syukur deh. Berarti 2 tahun lagi lulus nih.”

    “Iya mas, masih lama kok. Oh ya mas, aku sms gini gak ada yang marah nih?” Rasanya bukan hal penting aku bertanya demikian. Namun berawal dari percakapan sejenis ini aku pernah membenci dia. Saat itu dia punya kekasih namun saat ku tanya hal serupa tadi dia menjawab palsu. Bahkan sampai terjadi drama korea antara aku dan kekasihnya, sejenis penindasan sepihak dan aku tak bisa melawan karna status ku masih junior.

    “Engga kok dek, aku udah gak sama dia lagi.” Dan ini bagaikan sebuah sinyal positif bahwa aku bisa sepuasnya mengaguminya, bahkan aku bisa menyimpan fotonya dan ku pandang jika ku rindu.

    Dan percakapan itu berlanjut hingga menceritakan kehidupan kita sekarang. Aku sungguh tak menyangka rasa benci yang selama itu berubah menjadi rasa yang indah kembali dalam sekali tebaran senyumnya. Namun tetap saja aku tak ingin terlalu senang bahkan berharap apa-apa. Bisa saja dia datang hanya sebagai idola yang menghargai fansnya, atau sebagai kakak yang menyayangi adiknya. Itu semua bisa terjadi di antara aku dan dia. Intinya kalau dia perhatian aku tak boleh terbawa perasaan (baper), karna kecewa itu sungguh tak enak rasanya.

    .

    .

    .

    Bersambung…