Celoteh Kosong

Sekuat apapun aku berlari sekokoh apapun aku berdiri semua akan tetap sama jika kau terus saja menutup mata, telinga, dan mulut mu.
Ku fikir bagaimana bisa aku sejatuh ini miliki rasa kepada mu, terlalu dalam tumbuh akar-akar itu menancap dalam hati.
Kemarin kau dingin lalu hari ini kau hangat namun esok kau akan berubah menjadi dingin lagi. Kau senang bermain layang-layang hingga dalam urusan hatipun kau tarik ulur perasaan ku?
Maaf ini bukan lelucon namun sering membuat ku tertawa pahit.
Saat ku ingin berhenti kau begitu indah namun saat aku mulai bertahan kembali kau malah lenyap ditelan waktu.

Kau bukan sinyal di gunung kan?
Aku harap bukan.

Iklan

Penulis:

Surakarta '98. Mahasiswa Kesehatan. Jurusan Keperawatan Gigi. Mencintai Awan dan Senja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s