Ku Rindu (?)


/31/

Mau kangen saja sulit, apalagi mencinta? Sial, memang.

/32/
Kau kangen ia yang belum bernama. Yang masih berdiam dalam hati, menunggu Tuhan memberi aba-aba untuk menyeruak tiba-tiba dari persembunyiannya.

/33/
Sebab risau sedang melilit, memunculkan sebuah tanya,  mungkinkah doa doa yg kurapal selama ini telah sampai padanya? Apa dia tau? Atau udara dingin australia sudah membekukannya? Hingga dia sengaja abai, atau ia tidak mengerti jika dia abai?

/34/
Membicarakan kangen memang tak pernah habis, namun lidahku sudah kelu berucap tentang kangenku, kangenmu.

/35/
Kenapa? Aku tidak berkangen padamu, aku tidak berkangen padanya, namun yang terakhir itu bohong.

/36/
Kadang aku pingin ganti nama; pakai namanya. Aku pingin tahu rasanya kangenmu.

/37/
Kangen tidak pernah belajar tertib, sudah terpasang sinyal tunggu, tetap saja menerobos tanpa mau tahu.

/38/
Lalu pada siapa kangen mesti bersandar? Ketika mata kerap tak saling pandang, hanya berkisar antara nama dan jeda, entah dimana dan pada siapa.

/39/
Kangen seperti air, mengalir tak perduli batasannya.

/40/
Kangen itu abstrak, sebuah risih tak diduga datang, dengan segala ketidakmampuan mencapai temu dan kepasrahan yang menjadi-jadi.

/41/
Kangen itu kamu, yang tiada hentinya menghantui setiap langkah kakiku.

/42/
Kangen seperti air; entah menjadi hujan, yang rinai dipipimu atau hulu dari telaga yang kepadanya segala alir akan bermuara.

/43/
Kangen itu pelukan Tuhan. tempat aku kembali pulang.

/44/
Kangenku padamu akan berhenti saat kurasakan teriknya rembulan di malam hari.

/45/
Kangen itu sederhana, kau mengigaukan namaku saja sudah sah ijabnya, dek. Maharnya embun dan angin di sela rambutmu.

/46/
Kangen itu sederhana, kau menuliskan namaku dekat namamu sebagai coret-coretan, mengabai celoteh dosenmu dan memilih menggelar pelbagai kilas balik dan gurauan-gurauan kaku di awal pertemuan kita; itu juga kangen. Sama, aku juga begitu.

/47/
Kangen itu, sebenar-benarnya, dek. Bukan sesempat-sempatnya.

/48/
Bolehkah kangen kuucap rindu saja?
Walau artinya sama saja,
Tetap mengarah pada sosokmu yang jauh di mata.

/49/
Senduku larut dalam rindu
Bicara perihal rindu, tak pernah ada akhirnya.
Jika begitu, akhiri saja dulu yang dirindu.

/50/
Aku rindu, namun kehabisan kata.
Senduku menelan semuanya dengan mentah,
Tanpa matang pikir bersama duka.

/51/
Mabuk aku meneguk rindu tiap malam.
Rasa haus akan rindu yang membuat rakus diri ingin menelan duka hidup-hidup.

2017
oleh Adeana, Ayedelweis, Bung Ano, Ega, Eka Tyaa, Fiani R., Herwinda Milana, -ihsanjarot, Larung Limaluka, Nina Savitri, Siantara I. dan Yuu.

Sumber: LINE Kumpulan Puisi