Berawal Dari Kantin

Seperti biasanya, jam istirahat identik dengan keramaian kantin. Terutama saat jam makan siang, kurang pas rasanya kalau belum ke kantin. Entah itu cari makan atau cari pemandangan. Dan siang itu menjadi waktu yang tak pernah diduga sebelumnya. Aku duduk di meja bagian pojok kantin dan menghadap ke jendela. Sambil nunggu pesanan, dilihat-lihat dari dalem kantin seperti ada sosok yang aku kenal di depan sana. Karna aku menghadap ke jendela dan bisa lihat dengan jelas keadaan di luar itu, membuat aku yakin kalau aku memang kenal sosok itu. Benar saja, sosok itu adalah dia. Dia adalah senior yang pernah aku kagum-kagumi semasa dia masih ada di sekolah ini. Karena suatu hal aku sempat tak suka bahkan membenci dia, entah itu hal yang wajar atau bukan tapi aku merasa ingin marah dengan dia saat itu. 

Terlalu fokus sama dia, membuat aku jadi tak konsen makan. Rasanya sudah kenyang saja. Berharap dia lihat aku ada di dalam dan senyum kepada aku. Dan ternyata dia masuk ke dalam kantin untuk pesan minum, aku tak memanggilnya tapi dia menolehkan kepala ke arah ku sambil tersenyum. Yang benar saja, dia sadar akan keberadaanku. Itu adalah momen pembangkit rasaku terhadap dia. Dia mengingatku. Yang ku tau sepertinya hari ini dia akan bersosialisasi tentang kampusnya di sekolah. Sosialisasinya sih untuk kelas dua belas, ya karna memang mereka yang mau lulus duluan. 

Sepulang sekolah aku mencoba menghubungi dia, berharap nomornya masih aktif. 

“Tadi ke sekolah mau sosialisasi ya mas?” Dengan keyakinan hati ku tekan tombol kirim dan pesanpun terkirim.

“Iya nih dek.” Tak lama dia membalas pesanku. Itu artinya nomornya masih aktif. Entahlah, rasanya senang sekali saat pesanku dibalas.

“Oh gitu. Mas apa kabar?”

“Baik kok dek, kamu gimana? Sekarang kelas 11 ya?”

“Baik juga mas. Iya nih mas.”

“Wah syukur deh. Berarti 2 tahun lagi lulus nih.”

“Iya mas, masih lama kok. Oh ya mas, aku sms gini gak ada yang marah nih?” Rasanya bukan hal penting aku bertanya demikian. Namun berawal dari percakapan sejenis ini aku pernah membenci dia. Saat itu dia punya kekasih namun saat ku tanya hal serupa tadi dia menjawab palsu. Bahkan sampai terjadi drama korea antara aku dan kekasihnya, sejenis penindasan sepihak dan aku tak bisa melawan karna status ku masih junior.

“Engga kok dek, aku udah gak sama dia lagi.” Dan ini bagaikan sebuah sinyal positif bahwa aku bisa sepuasnya mengaguminya, bahkan aku bisa menyimpan fotonya dan ku pandang jika ku rindu.

Dan percakapan itu berlanjut hingga menceritakan kehidupan kita sekarang. Aku sungguh tak menyangka rasa benci yang selama itu berubah menjadi rasa yang indah kembali dalam sekali tebaran senyumnya. Namun tetap saja aku tak ingin terlalu senang bahkan berharap apa-apa. Bisa saja dia datang hanya sebagai idola yang menghargai fansnya, atau sebagai kakak yang menyayangi adiknya. Itu semua bisa terjadi di antara aku dan dia. Intinya kalau dia perhatian aku tak boleh terbawa perasaan (baper), karna kecewa itu sungguh tak enak rasanya.

.

.

.

Bersambung…

Iklan

Penulis:

Surakarta '98. Mahasiswa Kesehatan. Jurusan Keperawatan Gigi. Mencintai Awan dan Senja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s